APBN sering dibicarakan dalam angka yang besar: triliunan rupiah pendapatan negara, belanja negara, defisit, pembiayaan, subsidi, dan transfer ke daerah. Di meja pemerintah, angka-angka itu adalah instrumen kebijakan. Di layar presentasi, ia menjadi grafik dan indikator. Tetapi di rumah warga, kebijakan fiskal diterjemahkan dengan cara yang jauh lebih sederhana: cukup atau tidak uang belanja minggu ini, naik atau tidak ongkos transportasi, mampu atau tidak membayar sekolah anak, sanggup atau tidak menunda kebutuhan kesehatan, serta masih ada atau tidak ruang untuk menabung setelah seluruh biaya pokok dipenuhi.

Karena itu, membicarakan APBN tidak boleh berhenti pada urusan teknokratik. APBN memang dokumen fiskal, tetapi dampaknya adalah pengalaman sosial. Ia menyentuh dapur keluarga, warung kecil, petani, pekerja informal, pegawai bergaji tetap, mahasiswa rantau, hingga masyarakat di daerah yang biaya logistiknya lebih mahal. Jika pemerintah menyebut APBN sebagai shock absorber, maka pertanyaan rakyat sangat sederhana: guncangan apa yang benar-benar diserap, dan siapa yang paling merasakan bantalan itu?

Pada Maret 2026, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa APBN tetap kuat sebagai shock absorber di tengah gejolak global. Hingga akhir Februari 2026, pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target, tumbuh 12,8 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari pagu, meningkat 41,9 persen dibanding tahun sebelumnya, dan defisit tercatat Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB. Dari sisi makro, angka ini menunjukkan APBN masih bekerja dalam batas yang terkendali. Pemerintah juga menyatakan masih memiliki ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga.

Namun di sisi lain, pengalaman masyarakat tidak selalu sesederhana grafik fiskal. BPS mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen, dengan inflasi bulanan 0,41 persen dan inflasi tahun kalender 0,94 persen. Angka ini mungkin masih dapat disebut terkendali dalam bahasa statistik, tetapi rumah tangga merasakan inflasi bukan sebagai persentase, melainkan sebagai akumulasi kenaikan kecil yang berulang: cabai yang lebih mahal, transportasi yang naik, biaya makan di luar rumah yang bertambah, dan kebutuhan sehari-hari yang pelan-pelan mengurangi ruang bernapas.

Di sinilah kritik terhadap kebijakan fiskal perlu ditempatkan secara adil. Pemerintah memang harus menjaga stabilitas makro. Defisit tidak boleh dibiarkan liar. Utang harus dikelola. Belanja negara harus tetap kredibel. Tetapi stabilitas fiskal tidak boleh dipahami hanya sebagai kemampuan menjaga angka dalam koridor APBN. Stabilitas fiskal yang bermakna seharusnya juga terlihat dalam kemampuan negara menjaga daya tahan hidup masyarakat. Jika APBN sehat di atas kertas tetapi rumah tangga merasa semakin rapuh, ada jarak kebijakan yang perlu diperiksa.

Kementerian Keuangan pada Mei 2026 juga menyatakan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen, lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah menyebut APBN tetap ekspansif dan terukur, dengan belanja negara tumbuh 31,4 persen hingga akhir Maret 2026. Pemerintah juga menyampaikan adanya dukungan seperti diskon transportasi Rp0,92 triliun, pembayaran THR Rp51,6 triliun, bantuan pangan Rp13,37 triliun, serta realisasi ketahanan pangan Rp53,7 triliun dari pagu Rp210,4 triliun. Angka-angka ini menunjukkan negara memang bergerak. Tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah gerakan itu cukup cepat, cukup tepat sasaran, dan cukup terasa pada kantong rakyat?

Kritik pertama yang perlu diajukan adalah soal kepekaan waktu. Dalam kehidupan rakyat, tekanan biaya sering datang lebih cepat daripada bantuan atau kompensasi. Harga bisa berubah hari ini, sementara program perlindungan butuh pendataan, penyaluran, verifikasi, dan koordinasi. Selisih waktu inilah yang sering membuat masyarakat merasa kebijakan publik terlambat hadir. Bagi keluarga kelas menengah bawah, keterlambatan satu bulan bukan sekadar jeda administratif. Itu bisa berarti menunda pembayaran, mengurangi konsumsi, atau berutang kecil-kecilan untuk bertahan.

Kritik kedua adalah soal cara pemerintah membaca kelompok terdampak. Selama ini, kebijakan sosial sering lebih mudah menyasar kelompok miskin ekstrem atau penerima bantuan resmi. Itu penting dan harus dilanjutkan. Tetapi ada lapisan masyarakat yang sering luput: kelas menengah rentan, pekerja informal, keluarga muda, buruh dengan pendapatan pas-pasan, dan warga daerah dengan biaya transportasi tinggi. Mereka mungkin tidak masuk daftar bantuan, tetapi juga tidak cukup kuat menyerap kenaikan harga. Di sinilah fiskal harus lebih halus membaca realitas sosial, bukan hanya mengandalkan kategori administratif yang kaku.

Kritik ketiga adalah soal bahasa komunikasi fiskal. Pemerintah sering berbicara dengan istilah seperti defisit, pembiayaan, stabilisasi, ekspansi, dan shock absorber. Bahasa itu benar dalam ruang teknokrasi, tetapi tidak selalu menjawab kegelisahan publik. Rakyat membutuhkan penjelasan yang lebih manusiawi: mengapa harga naik, apa yang sedang ditahan pemerintah agar tidak lebih buruk, bantuan apa yang bisa dirasakan, dan apa ukuran keberhasilannya. Komunikasi fiskal bukan sekadar menyampaikan angka, tetapi membangun rasa aman.

Agar relasi antara APBN dan kantong rakyat terlihat lebih jelas, tabel berikut dapat menjadi kerangka membaca kebijakan fiskal dari perspektif keadilan publik.

Area Kebijakan FiskalCara Pemerintah MembacanyaCara Rakyat MerasakannyaPertanyaan Keadilan Publik
Pendapatan negaraPajak, PNBP, dividen, dan penerimaan lain untuk membiayai pembangunanPotongan pajak, harga barang, dan kewajiban ekonomi sehari-hariApakah beban penerimaan dibagi secara adil antara kelompok kuat dan kelompok rentan?
Belanja negaraInstrumen pembangunan, perlindungan sosial, subsidi, dan layanan publikBantuan, jalan, sekolah, layanan kesehatan, transportasi, dan panganApakah belanja benar-benar terasa pada kebutuhan dasar warga?
Defisit APBNSelisih pendapatan dan belanja yang dikelola dalam batas amanTidak terlihat langsung, tetapi berdampak pada ruang kebijakan masa depanApakah defisit dipakai untuk belanja produktif atau hanya menutup beban rutin?
Subsidi energi dan panganBantalan harga agar masyarakat tidak terpukul gejolak pasarHarga BBM, listrik, beras, pupuk, dan kebutuhan pokokApakah subsidi tepat sasaran tanpa membuat kelompok rentan tercecer?
Bantuan sosialPerlindungan untuk kelompok miskin dan rentanUang tunai, bantuan pangan, diskon, atau layanan khususApakah data penerima akurat dan prosesnya mudah dijangkau?
Belanja infrastrukturInvestasi jangka panjang untuk konektivitas dan produktivitasJalan, transportasi, logistik, dan akses layananApakah manfaatnya dirasakan luas atau hanya menguntungkan wilayah tertentu?
Pembiayaan/utangAlat menjaga kesinambungan APBN dan pembangunanTidak terasa langsung, tetapi menjadi beban generasi mendatang bila tidak produktifApakah utang memberi manfaat nyata dan memiliki rencana bayar yang kredibel?
Komunikasi fiskalPenjelasan kinerja APBN dan kebijakan ekonomiRasa percaya atau curiga terhadap pemerintahApakah pemerintah menjelaskan dengan jujur, sederhana, dan empatik?

Tabel ini menunjukkan bahwa APBN tidak boleh dipahami sebagai dokumen yang jauh dari rakyat. Setiap pos fiskal memiliki wajah sosial. Pajak bukan sekadar penerimaan, tetapi rasa keadilan. Belanja bukan sekadar realisasi, tetapi kualitas manfaat. Defisit bukan sekadar angka, tetapi pilihan tentang masa depan. Subsidi bukan sekadar beban, tetapi instrumen perlindungan. Dan komunikasi fiskal bukan sekadar publikasi, tetapi jembatan kepercayaan.

Pemerintah sebenarnya tidak berada dalam posisi yang mudah. Di satu sisi, negara harus menjaga kredibilitas fiskal agar pasar percaya, pembiayaan terkendali, dan stabilitas makro tetap kuat. Di sisi lain, negara harus memastikan rakyat tidak merasa ditinggalkan. Inilah seni kebijakan fiskal: menjaga neraca negara tanpa mengabaikan neraca rumah tangga. APBN yang sehat tetapi tidak peka bisa menimbulkan jarak sosial. Sebaliknya, APBN yang terlalu populis tetapi tidak disiplin bisa menciptakan masalah jangka panjang. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan yang berani: disiplin fiskal yang tetap memiliki hati sosial.

Kebijakan fiskal yang peka terhadap beban hidup masyarakat setidaknya harus memiliki tiga kualitas. Pertama, antisipatif. Pemerintah tidak menunggu keluhan membesar baru merespons. Jika ada potensi kenaikan harga energi, pangan, atau transportasi, dampaknya harus dipetakan lebih awal. Kedua, adaptif. Perlindungan tidak boleh terlalu kaku, karena tekanan biaya hidup berbeda antarwilayah dan antarkelompok. Ketiga, komunikatif. Publik harus memahami alasan kebijakan, batas kemampuan negara, dan langkah konkret yang sedang dilakukan.

Masalahnya, dalam banyak kebijakan, masyarakat sering melihat respons pemerintah sebagai sesuatu yang sektoral dan terpisah-pisah. Ketika harga naik, kementerian tertentu memberi penjelasan teknis. Ketika daya beli terganggu, kementerian lain bicara bantuan. Ketika APBN dibahas, Kemenkeu bicara angka makro. Semua benar, tetapi belum tentu terasa utuh di mata rakyat. Padahal beban hidup tidak datang secara sektoral. Dalam rumah tangga, semua biaya berkumpul dalam satu dompet yang sama.

Di sinilah fiskal harus lebih berorientasi pada pengalaman warga. Misalnya, ketika pemerintah menyatakan inflasi terkendali, perlu dijelaskan juga kelompok pengeluaran mana yang paling menekan rumah tangga. Ketika belanja negara tumbuh, perlu diterangkan manfaat apa yang sudah sampai dan kepada siapa. Ketika subsidi dikatakan tepat sasaran, perlu dibuka bagaimana mekanisme koreksi bagi warga yang tercecer. Ketika bantuan pangan disalurkan, perlu dievaluasi apakah kualitas, waktu, dan lokasi distribusinya benar-benar membantu. Tanpa itu, publik hanya melihat angka besar tanpa merasakan makna.

Checklist berikut dapat menjadi pegangan sederhana agar kebijakan fiskal lebih peka terhadap beban hidup masyarakat.

Checklist Kebijakan Fiskal yang Peka terhadap Kantong Rakyat

  • Apakah kebijakan sudah disertai peta dampak rumah tangga?
    Pemerintah perlu mengetahui dampak pada kelompok miskin, kelas menengah rentan, pekerja informal, keluarga muda, dan daerah berbiaya tinggi.
  • Apakah bantuan datang sebelum tekanan menjadi krisis?
    Kebijakan perlindungan harus lebih antisipatif, bukan hanya reaktif setelah keluhan membesar.
  • Apakah belanja negara benar-benar terasa pada kebutuhan dasar?
    Realisasi belanja harus dikaitkan dengan pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan daya beli.
  • Apakah komunikasi fiskal mudah dimengerti warga biasa?
    Istilah teknis perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang menjawab kekhawatiran publik.
  • Apakah ada kanal koreksi bagi warga yang tidak terdata?
    Data penerima bantuan tidak pernah sempurna; mekanisme koreksi harus mudah dan cepat.
  • Apakah kebijakan diuji secara berkala setelah berjalan?
    Evaluasi 30, 60, dan 90 hari penting untuk melihat apakah kebijakan benar-benar menahan beban hidup.

Pada akhirnya, APBN dan kantong rakyat tidak boleh dipisahkan terlalu jauh. APBN adalah wajah negara, sedangkan kantong rakyat adalah tempat kebijakan itu diuji. Pemerintah boleh bangga pada pendapatan yang tumbuh, belanja yang terakselerasi, defisit yang terkendali, dan pertumbuhan ekonomi yang positif. Tetapi kebanggaan itu harus dilengkapi dengan kerendahan hati untuk mendengar pengalaman warga yang masih merasa berat. Sebab angka makro yang baik tidak otomatis menghapus kecemasan mikro.

Kebijakan fiskal yang baik bukan hanya mampu menjaga neraca negara, tetapi juga mampu menjaga harapan rakyat. Ia tidak harus selalu menyenangkan semua orang, tetapi harus dapat dijelaskan secara jujur, dirancang secara adil, dan dievaluasi secara terbuka. Jika pemerintah ingin APBN dipercaya sebagai alat perlindungan, maka APBN harus terasa bukan hanya di konferensi pers, tetapi juga di dapur, di ongkos perjalanan, di sekolah anak, dan di ruang hidup masyarakat.

Maka, inti dari kritik ini bukan agar pemerintah menghamburkan anggaran demi popularitas. Justru sebaliknya: pemerintah perlu semakin disiplin, tetapi disiplin yang peka. Disiplin fiskal tanpa empati akan terasa dingin. Empati tanpa disiplin akan berisiko membebani masa depan. Yang diperlukan adalah keduanya berjalan bersama. Antara APBN dan kantong rakyat, ada satu jembatan yang harus dijaga: keadilan publik. Tanpa jembatan itu, kebijakan fiskal akan terlihat kuat di atas kertas, tetapi lemah di hati masyarakat.