Awal Maret 2026 menjadi penanda duka yang berat bagi Iran dan bagi banyak kalangan di dunia Muslim. Kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, setelah serangan Amerika Serikat dan Israel yang juga dikonfirmasi media internasional serta diumumkan media negara Iran, bukan hanya menutup satu babak kepemimpinan panjang, tetapi juga membuka ruang renungan tentang harga sebuah keteguhan, mahalnya konflik geopolitik, dan rapuhnya diplomasi ketika bahasa senjata mengalahkan bahasa perundingan. Reuters mencatat bahwa Khamenei wafat pada usia 86 tahun dan telah memimpin Iran selama 36 tahun sejak 1989.

Jika sebuah bangsa sering diingat lewat tokoh-tokohnya, maka Iran modern tidak mungkin dibicarakan tanpa menyebut nama Ali Khamenei. Biografi resmi di situs leader.ir menyebut ia lahir di Mashhad pada 16 Juli 1939, tumbuh dalam kehidupan keluarga ulama yang sederhana, dan sejak muda akrab dengan disiplin keilmuan, kezuhudan, dan suasana religius yang kuat. Dalam narasi resmi itu, kesederhanaan keluarga bukan hanya latar sosial, melainkan fondasi moral yang membentuk pandangan hidupnya. Dari rumah yang sederhana itulah lahir seorang tokoh yang kelak berdiri di jantung sejarah Iran modern.

Memoar atas dirinya, karena itu, tidak cukup ditulis sebagai catatan tentang seorang kepala negara. Ia juga merupakan memoar tentang sebuah generasi yang dibentuk oleh revolusi, perang, sanksi, dan keyakinan bahwa kedaulatan tidak boleh ditukar dengan kenyamanan sesaat. Ketika Dewan Ahli Iran menunjuknya sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989 setelah wafatnya Ayatollah Khomeini, sedikit yang menyangka bahwa ia akan menjadi figur paling menentukan dalam struktur politik Iran selama lebih dari tiga dekade. Reuters mencatat bahwa pada awalnya ia bahkan dianggap bukan sosok paling kuat atau paling karismatik, tetapi waktu justru memperlihatkan bagaimana ia mengonsolidasikan cengkeraman atas urusan negara dan menjadikan posisinya pusat gravitasi politik Iran.

Dalam ingatan para pendukungnya, Khamenei bukan sekadar pemimpin formal. Ia adalah simbol keteguhan terhadap tekanan Barat, simbol ketahanan negara di tengah sanksi, dan simbol kesinambungan ideologis Republik Islam. Associated Press melaporkan bahwa bagi banyak komunitas Syiah di luar Iran, terutama di Irak, Pakistan, Lebanon, dan kawasan lain, kematiannya bukan dibaca hanya sebagai wafatnya seorang penguasa, tetapi juga sebagai hilangnya salah satu figur religius-politik paling menonjol dalam dunia Syiah. Itulah sebabnya, gelombang duka dan kemarahan muncul jauh melampaui perbatasan Iran.

Namun setiap memoar yang jujur juga harus berani mengakui bahwa tokoh besar jarang hidup di ruang yang sederhana. Khamenei dikenang secara berbeda, tergantung dari jarak ideologis orang yang menilainya. Bagi pendukungnya, ia adalah penjaga martabat dan kedaulatan. Bagi para pengkritiknya, ia adalah figur yang keras, sangat anti-Barat, dan mewariskan sistem yang menutup banyak ruang kebebasan domestik. Reuters menulis bahwa sepanjang pemerintahannya ia membangun Iran sebagai kekuatan anti-Amerika yang berpengaruh di Timur Tengah, sambil menggunakan tangan besi terhadap berbagai gejolak di dalam negeri. Karena itu, mengenangnya secara bermartabat tidak berarti meniadakan kompleksitas, melainkan menerima bahwa sejarah tokoh besar hampir selalu ditulis dengan tinta pujian dan bayangan kontroversi sekaligus.

Tetapi justru di situlah bobot memoar ini terasa. Khamenei adalah figur yang memilih hidup dalam tekanan konstan dan tetap mempertahankan garis politiknya sampai akhir. Ia tidak dikenang sebagai pemimpin yang lunak terhadap lawan-lawannya. Ia juga tidak tercatat sebagai sosok yang mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia internasional. Namun di mata pengikutnya, keteguhan itulah kehormatan utamanya: seorang pemimpin yang tidak melunak hanya karena ancaman membesar, tidak menukar prinsip demi jeda kenyamanan, dan tidak membiarkan Iran diposisikan sebagai negara yang tunduk sepenuhnya pada tekanan asing. Dalam dunia yang semakin pragmatis, keteguhan seperti ini—meski mengundang perdebatan—tetap memberi kesan mendalam.

Di titik ini, bagian kritik terhadap pemerintahan Amerika menjadi tak terelakkan. Dari sudut pandang moral-politik, yang paling layak dipersoalkan bukan hanya siapa yang menjadi lawan Washington, melainkan cara Washington terus-menerus menempatkan kekuatan militer sebagai bahasa terakhir yang dianggap sah. Reuters melaporkan bahwa wafatnya Khamenei terjadi dalam serangan Amerika Serikat dan Israel setelah bertahun-tahun sengketa mengenai program nuklir Iran gagal diselesaikan secara diplomatik. Bila benar diplomasi berakhir dengan serangan yang menewaskan seorang kepala tertinggi negara lain, maka dunia patut bertanya: apakah tata dunia hari ini masih digerakkan oleh hukum internasional, atau semakin dikendalikan oleh hukum pihak yang paling kuat secara militer.

Kritik kedua menyentuh dampak yang jauh melampaui target militer. Associated Press melaporkan bahwa kematian Khamenei mengguncang komunitas Syiah lintas negara dan memicu kekhawatiran luas tentang reaksi balasan serta ketidakstabilan regional. Artinya, operasi semacam ini bukan hanya soal satu figur yang dilenyapkan, tetapi juga soal efek berantai pada emosi keagamaan, stabilitas sosial, dan keamanan kawasan. Dalam kacamata etika politik, tindakan yang memperbesar kemungkinan eskalasi regional tidak bisa begitu saja dibungkus dengan dalih efisiensi strategis. Ia harus dinilai sebagai keputusan yang berpotensi menyeret lebih banyak masyarakat sipil ke dalam lingkaran luka yang tidak mereka pilih.

Kritik ketiga adalah kegagalan teladan. Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui forum-forum resminya, telah berulang kali memperingatkan bahwa Timur Tengah tidak mampu menanggung eskalasi besar yang baru dan bahwa korban sipil serta kerusakan infrastruktur hanya akan memperdalam bencana kemanusiaan. Ketika negara besar tetap memilih jalur yang memperbesar suhu kawasan, maka yang rusak bukan hanya satu kota atau satu rezim, tetapi juga kredibilitas tatanan internasional itu sendiri. Dunia tidak bisa terus diajari tentang perdamaian dengan cara yang justru menormalkan pembunuhan politik tingkat tertinggi.

Bagi masyarakat Indonesia, situasi ini seharusnya tidak dibaca dengan emosi mentah. Ada tiga sikap yang menurut saya penting. Pertama, kita perlu menjaga kejernihan berpikir. Jangan biarkan peristiwa global yang sangat sensitif ini dipakai untuk menyulut polarisasi sektarian, permusuhan sempit, atau kebencian yang tidak produktif di ruang domestik kita. Kedua, kita perlu memperkuat literasi publik. Di saat seperti ini, potongan video, opini sepihak, dan narasi provokatif akan beredar sangat cepat. Masyarakat Indonesia harus membiasakan diri memeriksa sumber, membaca konteks, dan menahan diri sebelum membagikan sesuatu. Ketiga, kita perlu merawat empati tanpa kehilangan akal sehat: mendoakan yang wafat, prihatin pada eskalasi konflik, tetapi tetap berpijak pada prinsip damai, hukum, dan kemanusiaan.

Indonesia juga perlu mengambil pelajaran yang lebih dalam dari peristiwa ini. Sebuah negara yang berdaulat harus selalu memperkuat daya tahannya sendiri—secara sosial, diplomatik, dan moral. Dunia saat ini menunjukkan bahwa negara yang lemah secara konsolidasi domestik akan mudah menjadi arena tarik-menarik kepentingan global. Karena itu, masyarakat Indonesia tidak cukup hanya menjadi penonton konflik luar negeri. Kita harus memetik hikmah: pentingnya persatuan nasional, pentingnya kepemimpinan yang kuat tetapi tetap akuntabel, pentingnya kemandirian kebijakan, dan pentingnya budaya publik yang tidak mudah dipecah oleh propaganda.

Pada akhirnya, memoar atas Ayatollah Ali Khamenei adalah memoar atas seorang pemimpin yang hidup dalam ketegangan sejarah dan wafat di tengah badai geopolitik. Ia akan dikenang secara berbeda oleh generasi yang berbeda, tetapi tak dapat disangkal bahwa ia meninggalkan jejak besar dalam politik Iran, dalam imajinasi dunia Syiah, dan dalam peta konflik Timur Tengah. Duka atas dirinya, bagi sebagian orang, adalah duka atas seorang ayah ideologis. Bagi yang lain, ia adalah akhir dari satu era keras yang penuh pertentangan. Namun bagi siapa pun yang mau membaca sejarah dengan tenang, kematiannya memberi satu pelajaran yang sangat penting: ketika diplomasi gagal dan kekuatan militer dijadikan bahasa utama, maka yang gugur bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga harapan bahwa dunia bisa menjadi sedikit lebih waras.